i looked at you

i looked at you
i looked at you

i'm limited! ^^

Don't ever compare one individual to the another one. People are nothing have a samethings.

Selasa, 07 Agustus 2012

Ketika semua lembaran menjadi digital

Ketika saya berada didepan alat elektronik tercanggih abad ini dan pada saat ini, mungkin saya bingung harus menuliskan dan menuangkan kata-kata apa. Dikarenakan,jujur saya lupa bagaimana cara untuk menuangkan perasaan diatas lembar elektronik ini. Kata-kata itu hilang begitu saja bersamaan dengan menghilangnya ketertarikan diri atas sebuah lembar bacaan pembuka jendela dunia (re:buku) sudah hampir satu tahun, buku yg saya mulai baca pun tidak pernah habis saya lahap. Tidak seperti dulu, entah apa yg membuat kertarikan saya dengan sebuah bacaan itu menjadi berkurang. Padahal, dulu ketika saya masih bisa dikatakan “maniak” dengan apa yg dapat dibaca,ketika di bus, sekolah (pasti), dan waktu2 luang saya hampir saya habiskan dengan membaca dan membaca. Terlihat seperti nerd sih memang, tapi saya bukan termasuk golongan nerd 100%. Saya hanya hobby dan benar2 mencintai buku helai demi helai kata2 yg dapat memberikan inspirasi atau pun imaginasi dari otak masing2. 

 Beberapa hari yang lalu, saya coba untuk membuka rak2 tumpukan koleksi buku2. Mulai dari novel motivator, novel islami, teenlite, novel ringan hingga berat pun menjajahi rak buku pribadi yg bertengger rapi dan berdebu di pojok ruangan yang tak pernah disentuh,difikirkan maupun diperdulikan lagi. 

Dulu, saya pribadi tidak pernah menginjakan kaki di tempat2 gaul anak2 muda masa kini. Saya lebih prefer ke book store favorit untuk mencari the big ten of popular book of the month. Dan setelah itu,saya menghabiskan waktu untuk bermesra2an dengan dunia pribadi dan melupakan makhluk hidup disekitar. Memang terkesan apatis dan unsocial. Tapi, entah kenapa saat ini rasa rindu akan ke-nerd-an saya yg terkesan nanggung pun kembali lagi. Rindu akan lembaran2 kertas sedikit menguning yg beraroma khas namun tetap saya bawa kemanapun saya pergi. Apabila buku itu belum tuntas saya lahap,benda itu akan menjadi teman setia saya hingga saya berhasil melahap bab demi bab yg ada di bacaan itu. Jatuh cinta yang sesungguhnya yg pernah saya rasakan adalah jatuh cinta pada aroma buku tua di perpustakaan yang berdebu dengan kertas menguning dan terdapat bercak2 kuning kecoklatan berumur yg dilengkapi dengan lipatan2 pada halaman tertentu. Mungkin terkesan jorok, tetapi entah kenapa ini dapat mendatangkan perasaan puas dan bernilai tinggi pada diri pribadi. 

seperti ini contoh buku 5cm yang telah usang dimakan waktu.
Entah mengapa, bercak-bercak yang terkesan jorok itu seperti nilai seni yang unik.

Tetapi sekarang sudah tidak lagi. Entah kenapa, im not really interest with this stuff! Mungkin ini semua karena jaman globalisasi dan westernisasi yang mengharuskan kita menggunakan media elektronik untuk menggali informasi. Lambat laun, penggemar buku pun akan menurun drastis dan akan berbanding terbalik dengan pengguna elektronik ataupun internet yang setiap hari manusia2 modern ini dapat mengakses dengan mudah ditambah dengan gadget yang memudahkan untuk melihat dunia dan seisi informasi dalam satu genggaman saja. Saya pribadi bukannya tidak setuju dengan diadakannya sistem modernisasi dan globalisasi yg sangat intelek. Pada dasarnya, Modernisasi mengacu pada kemudahan dan efisiensy. Hemat waktu maupun tenaga atau biaya yang harus dibayar, sangat berbeda jika kita tetap berada dikebiasaan lama untuk membaca buku lembar demi lembar yang dapat menghabiskan waktu lama dan harga yang cukup mahal apabila harus mencari refrensi buku ke perpustakaan. Dan juga, modernisasi ini memudahkan para mahasiswa untuk me-research data untuk kebutuhannya.

Ketika saya melilhat rak dengan tumpukan2 buku yang berdebu,tiba2 hati memanggil dan ingin rasanya meraih dan memanjakan benda2 pemberi ilmu ini untuk beberapa hari. Sebenarnya saya pribadi tidak terlalu menyukai cara belajar mahasiswa saat ini dengan menggunakan slide ataupun ebook, entah kenapa untuk saya itu kurang efektif. Dengan menggunakan slide maupun ebook, mata harus bekerja extra keras untuk melihat monitor dan radiasi dan menyebabkan mata cepat lelah. Mungkin ini terdengar lebih simple, Karena kita dapat menyimpan berribu-ribu halaman buku dengan satu data dan terlihat lebih efektif. Namun, saya bukan termasuk tipe mahasiswa yang dapat mengikuti arah perkembangan cara belajar mahasiswa modern seperti itu. Walaupun dihimbau oleh banyak ambasador green life or whatever the name of comunity tentang penghematan produksi kertas, didalam lubuk hati yang paling dalam saya tetap mencintai buku untuk pacar belajar saya. Dan, saya rasa buku tetap menjadi juara dari sekian banyak nya artikel ataupun wikipedia yang ada untuk menunjukan keabsahan fakta sebuah riset maupun pengertian suatu istilah.