Terekam jelas
semua nampak tak kasat mata
harumnya, pelukan lembut sebuah berlian tak bersinar
genggaman kenyamanan yang tak dapat dirasa di
ibukota individualis
liberalisme dan layaknya kriminalis
sebersit namun pasti
alunan gamelan kuno bertemakan ethnic terngiang
terbang bersama hembusan nafas,namun terhirup kembali hingga arteri mengalir keseluruh tubuh
"prihatin" hanya kata yg deskripsikan sang maha ibukota
aku memang minoritas
bukan yang pertama layaknya membohongi
kepribadian di ibukota
ketenangan,keramahan,canda tawa ethnic jawa
telah mendapatiku nyaman namun lebih
bukan, aku bukan suku jawa
tetapi slamet riyadi dan seisinya telah menyihirku
tak dapat ku menampik
rindu akan kembali surakarta
salam buat mama ya dari
BalasHapuswww.yara74.blogspot.com